Archive for November 2015

Jalur Mati Kereta Api di Tanah Madura

Satu keluarga Belanda menanti datangnya trem uap di Stasiun Kamal-Pier (Dermaga Kamal),
Bangkalan, Madura. (1910)


Jembatan KA antara Sampang-Pamekasan
yang baru dibangun Belanda.
Jalur kereta api dibangun di Pulau Madura pada akhir abad ke-19. Jalur KA antara Kalianget (Kabupaten Sumenep, Madura Timur) sampai dengan Kamal (Kabupaten Bangkalan, Madura Barat) pertama kali dibuka pemerintah Hindia Belanda bagian demi bagian antara tahun 1898 s/d 1901.

Periodisasi pembukaan jalur KA di Madura adalah Kamal-Bangkalan (1898), Bangkalan-Tunjung (1899), Tunjung-Kwanyar (1900), Tanjung-Kapedi (1900), Kapedi-Tambangan (1900), Tambangan-Kalianget (1899), Kwanyar-Blega (1901), Tanjung-Sampang (1901), dan Sampang-Blega (1901). Masing-masing jalur KA mengacu kepada nama-nama stasiun pemberhentian dan sebagian besar sejajar dengan jalan raya di bagian selatan Pulau Madura.

Rel KA dari Sumenep menuju Kalianget, Madura.
Jalur-jalur KA ini dikelola oleh Madura Stoomtram Maatschappij (Maskapai Trem Uap Madura).
Jalur KA di Madura resmi ditutup pada tahun 1987. Awalnya moda transportasi KA memang hanya digunakan sebagai sarana angkutan garam sebagai komoditi utama Madura antara Kalianget dan Kamal maupun sebaliknya.

Kereta di Madura kemudian tak hanya melayani garam. Penduduk lokal Madura menjadikan KA sebagai wahana transportasi paling cepat dan murah. Perjalanan KA di Madura dari titik awal sampai akhir, di zaman Hindia Belanda berlangsung hampir sehari penuh.

Stasiun KA Kamal, Bangkalan--Madura,
zaman Hindia Belanda milik Madoera Stoomtram Maatschappij.
Perjalanan dengan KA ini disambung dengan kapal-kapal tambang (feri) yang berlayar antara Pelabuhan Kamal (Bangkalan) dan Pelabuhan Ujung/ Perak (Surabaya - Jawa) maupun antara Pelabuhan Kalianget (Sumenep) dengan Pelabuhan Panarukan (Situbondo).

Sejarah kelam transportasi KA Madura terjadi pada masa kolonial Jepang. Jalur KA Kalianget - Pamekasan dibongkar tentara Dai Nippon dengan mengerahkan tenaga-tenaga Romusha. Besi rel bekas jalur KA yang dibangun Belanda tersebut dijarah oleh Jepang untuk selanjutnya dijadikan mesin-mesin perang Jepang selama Perang Pasifik (Perang Dunia II). Praktis setelah masa kemerdekaan, tranportasi KA di Madura hanya menyisakan jalur Pamekasan sampai Kamal.

Lokomotif C3117 yang lewat Telang-Bangkalan, Madura,
sekitar tahun 1969.
Jalur Pamekasan-Kamal itu cukup disesaki penumpang meski tidak sepadat di Jawa. Turun dari kapal penyeberangan di Dermaga Kamal, KA siap mengangkut masyarakat ke berbagai tempat di Madura. Sebaliknya, KA yang mengangkut penumpang dari berbagai tempat di Madura akan berhenti di Stasiun Kamal untuk selanjutnya diteruskan dengan kapal menuju Surabaya.

Pada masa itu jalur transportasi KA menjadi favorit atau pilihan utama masyarakat Madura karena angkutan darat seperti bus, mobil pribadi, minibus, apalagi sepeda motor, belum sebanyak sekarang. Namun seiring kemajuan jaman, moda transportasi KA mulai ditinggal oleh masyarakat Madura dengan beralih ke sarana angkutan lain. Jalur KA di Madura pun kemudian resmi ditutup pada tahun 1987.
Thursday, November 12, 2015

Copyright © yoshikanji blog - All Right Reserved