Tips Membaca The Silmarillion dari The Tolkien Society

Susah Membaca The Silmarillion? Belakangan ini, saya sering dapat pertanyaan seperti “mana yang lebih enak dibaca lebih dulu? The Hobbit dan LOTR baru Silmarillion, atau sebaliknya?” Nah, secara umum sih disarankan untuk lebih baik membaca The Hobbit dulu, baru LOTR. Selain karena sudah ada bahasa Indonesianya, versi bahasa Inggrisnya pun cukup enak dibaca: gayanya berupa prosa narasi ala buku-buku fantasi/petualangan yang sudah kita kenal, mengalir dengan enak dan lengkap dengan banyak dialog yang hidup. Sebaliknya, The Silmarillion, walaupun merupakan ‘sejarah’ awal dunia Middle Earth yang kita kenal dalam The Hobbit dan LOTR, justru disarankan untuk dibaca belakangan. Sebabnya: selain karena dipublikasikan belakangan sehingga lebih ditujukan untuk mereka yang memang sudah membaca dua buku sebelumnya, The Silmarillion punya gaya bahasa yang lebih berat dengan model penceritaan yang mungkin akan sedikit mengagetkan untuk yang belum terbiasa. Komentar yang kerap muncul adalah: “gaya bahasanya nyastra banget!” atau “bahasa Inggrisnya susah!”

mau beli?

Jangan salah, ini bukan hanya masalah yang dihadapi pembaca dari negara yang bahasa aslinya bukan bahasa Inggris, lho. Bahkan pembaca di negara-negara seperti Amerika Serikat atau Inggris, terutama pembaca muda, mereka yang sebelumnya hanya tahu buku The Hobbit dan LOTR, atau mereka yang baru tahu soal Tolkien setelah menonton film, juga banyak yang perlu waktu untuk membiasakan diri saat akhirnya membaca The Silmarillion. Dalam istilah bahasa Inggris, buku ini sering disebut punya gaya bahasa yang ‘biblical’; rasanya lebih seperti membaca sebuah ‘kitab’ daripada novel fantasi. Makanya, setelah membaca The Hobbit dan LOTR, mereka yang penasaran dengan The Silmarillion akhirnya menemukan bahwa bukunya kok agak susah ‘dikunyah’ dari segi gaya penceritaan dan gaya bahasa.

Eh, tapi jangan kecut dulu. Pertama kali saya membaca The Silmarillion (sekitar tahun 2003) juga rasanya ngos-ngosan kok. Maklum, walaupun saat itu saya sudah cukup terbiasa membaca buku bahasa Inggris, yang sering saya baca adalah novel atau cerpen kontemporer dengan gaya bahasa populer yang sudah umum, atau majalah seperti National Geographic yang gaya tulisannya memang dirancang untuk pembaca umum walau artikelnya beragam dan serius. Malah, begitu buka halaman di bab pertama, saya langsung mikir: “waduh, gue ngerti nggak ya baca buku yang bahasanya kayak gini, kapan selesainya?” You know what? Setelah makin tenggelam dalam kisah-kisahnya, saya justru tidak bisa lepas dari buku ini sampai sudah khatam berkali-kali, dan di beberapa bab saya bahkan menangis (sambil terisak-isak sambil mikir “haduh ini kalimat berikutnya opo yo maksudnya?” Jadinya nangis sambil bingung :-) ). But I got better with time, and you can do the same.

Membiasakan diri dengan gaya bahasa dan penceritaan The Silmarillion adalah halangan cukup besar yang dihadapi para pembaca pemula, namun karena buku ini narasinya lebih berupa kumpulan kisah, ini yang membuat kita bisa menggunakan beberapa trik untuk membiasakan diri dengan buku ini sambil tetap menikmati kisah-kisah di dalamnya. The Tolkien Society, asosiasi internasional yang menjadi pusat diskusi dan ekspresi kecintaan terhadap karya-karya J.R.R. Tolkien, menawarkan beberapa tips untuk membiasakan diri membaca The Silmarillion, sambil tetap memahami berbagai ceritanya.

Oh ya, sebelum mengikuti tips ini, Anda sebaiknya sudah membaca The Hobbit dan LOTR. Kalau bisa membaca versi bahasa Inggrisnya sangat bagus, tapi baca terjemahannya pun tidak masalah, yang penting Anda bisa familiar dengan jalan cerita serta karakter di dalamnya, karena akan sangat membantu dalam proses belajar membaca The Silmarillion.

Berikut beberapa tips yang bisa dicoba (tidak mesti berurutan, silahkan coba yang mana yang paling enak buat Anda):
Jika Anda seperti saya (ingin langsung membaca dari awal sampai habis), jangan membaca dari bab-bab pertama (Ainulindalë dan Valaquenta), melainkan langsung lompat ke bab Of the Beginning of Days. Hal ini karena di sinilah gaya penceritaan mulai mengalir seperti narasi, dan lebih enak dipahami, sementara bab Ainulindalë dan Valaquenta lebih banyak berupa deskripsi, termasuk deskripsi penciptaan dan penjelasan tentang nama-nama Valar, Maiar, dan job desc masing-masing. Anda bisa kembali ke dua bab awal ini setelah semua bab awal selesai, atau kalau Anda sudah mulai merasa cukup nyaman dengan alur membaca.

Ingin benar-benar membiasakan diri dulu dengan gaya bahasa buku ini? Nah, jika Anda baca buku LOTR di adegan tepat sebelum serangan di Weathertop (saat Frodo dan kawan-kawan baru saja gabung dengan Aragorn alias Strider), ada adegan dimana Strider mengisahkan riwayat Beren dan Luthien secara singkat. Oke, sudah? Sekarang, coba latihan membaca riwayat mereka dalam kisah aslinya dengan langsung lompat ke The Silmarillion bab 19: Of Beren and Luthien. Nggak usah khawatir; Anda tidak perlu membaca bab-bab sebelumnya untuk paham cerita ini, kok. Coba resapi alur penceritaan dan biasakan diri dengan gaya bahasanya, dengan menggunakan ringkasan yang sudah Anda baca sebagai pemandu. Sekali lagi, ini memang mungkin perlu waktu, tapi tidak ada jeleknya lho jika Anda belajar dan terbiasa membaca teks bahasa Inggris seperti ini.

Alternatif lain, Anda bisa langsung lompat ke bab terakhir: Of the Rings of Power and the Third Age. Kenapa? Karena bab ini pada intinya berisi ringkasan dari beberapa kejadian penting yang sudah dijabarkan di LOTR. Jadi, jika Anda sudah baca LOTR, Anda akan mudah mengikuti bab terakhir ini karena pasti banyak aspek cerita yang sudah sangat familiar. Sambil mengikuti ceritanya (dan mungkin sambil mengenang-ngenang adegan tertentu yang sudah Anda baca atau tonton di LOTR), Anda bisa sambil membiasakan diri dengan gaya bahasa The Silmarillion. Banyak pembaca pemula yang menemukan cara ini sangat efektif.

Jika Anda cukup rajin (atau ingin mengisi waktu luang dengan produktif), Anda bisa mencatat nama-nama karakter yang Anda temukan di buku. Di bagian belakang The Silmarillion ada pohon keluarga beberapa karakter penting yang bisa Anda telusuri. Atau, jika Anda susah lepas dari ponsel atau tablet, silahkan buka Encylopedia of Arda atau Tolkien Gateway, dua ensiklopedi online yang paling direkomendasikan untuk mengetahui lebih dalam dunia Middle Earth-nya Tolkien. Ketik saja nama yang membuat Anda penasaran di kotak Search di situs tersebut.
Setelah Anda membaca semua ini, Anda mungkin menganggap ini agak merepotkan. Tapi tidak, kok! Semua cara ini pernah saya coba, dan saya malah nekad langsung menerjang dua bab awal yaitu Ainulindalë dan Valaquenta, yang membuat saya menghabiskan waktu agak lama karena mencatat nama-nama karakter yang muncul terutama nama-nama para Valar (tapi asyik kok; menghapal nama-nama Valar rasanya seperti menghapal nama-nama dewa-dewi Yunani Kuno lengkap dengan job desc mereka masing-masing, atau kalau tidak, seperti menghapal nama-nama mantan sekjen PBB jaman belajar IPS di SD dulu :-) ).

Banyak teman-teman saya serta pembaca di negara lain yang justru menganggap hal ini (belajar membaca The Silmarillion untuk pertama kalinya) sebagai tantangan yang menyenangkan, karena setelah usaha-usaha awal untuk beradaptasi, terutama sebagai orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, kita akan mendapat hadiah yaitu keindahan kisah-kisah yang dirajut Tolkien, yang bukan lagi sekedar novel fantasi, melainkan sudah dianggap sebagai semacam ‘mitologi modern.’
Jadi, jika Anda merasa tertarik dan tertantang untuk menyelami karya Tolkien lebih jauh, cobalah, tidak akan ada ruginya!

PS: ingin punya teman diskusi soal buku-bukunya Tolkien? Silahkan bergabung dengan komunitas Eorlingas: Indonesian Tolkien Society di Facebook page mereka. Jangan lupa untuk membaca dan menaati semua aturan grup ya, karena member di sini bermacam-macam dan dengan latar belakang beragam. Courtesy and good communication manners are must.

Putri Prihatini


Tuesday, December 15, 2015

Jalur Mati Kereta Api di Tanah Madura

Satu keluarga Belanda menanti datangnya trem uap di Stasiun Kamal-Pier (Dermaga Kamal),
Bangkalan, Madura. (1910)


Jembatan KA antara Sampang-Pamekasan
yang baru dibangun Belanda.
Jalur kereta api dibangun di Pulau Madura pada akhir abad ke-19. Jalur KA antara Kalianget (Kabupaten Sumenep, Madura Timur) sampai dengan Kamal (Kabupaten Bangkalan, Madura Barat) pertama kali dibuka pemerintah Hindia Belanda bagian demi bagian antara tahun 1898 s/d 1901.

Periodisasi pembukaan jalur KA di Madura adalah Kamal-Bangkalan (1898), Bangkalan-Tunjung (1899), Tunjung-Kwanyar (1900), Tanjung-Kapedi (1900), Kapedi-Tambangan (1900), Tambangan-Kalianget (1899), Kwanyar-Blega (1901), Tanjung-Sampang (1901), dan Sampang-Blega (1901). Masing-masing jalur KA mengacu kepada nama-nama stasiun pemberhentian dan sebagian besar sejajar dengan jalan raya di bagian selatan Pulau Madura.

Rel KA dari Sumenep menuju Kalianget, Madura.
Jalur-jalur KA ini dikelola oleh Madura Stoomtram Maatschappij (Maskapai Trem Uap Madura).
Jalur KA di Madura resmi ditutup pada tahun 1987. Awalnya moda transportasi KA memang hanya digunakan sebagai sarana angkutan garam sebagai komoditi utama Madura antara Kalianget dan Kamal maupun sebaliknya.

Kereta di Madura kemudian tak hanya melayani garam. Penduduk lokal Madura menjadikan KA sebagai wahana transportasi paling cepat dan murah. Perjalanan KA di Madura dari titik awal sampai akhir, di zaman Hindia Belanda berlangsung hampir sehari penuh.

Stasiun KA Kamal, Bangkalan--Madura,
zaman Hindia Belanda milik Madoera Stoomtram Maatschappij.
Perjalanan dengan KA ini disambung dengan kapal-kapal tambang (feri) yang berlayar antara Pelabuhan Kamal (Bangkalan) dan Pelabuhan Ujung/ Perak (Surabaya - Jawa) maupun antara Pelabuhan Kalianget (Sumenep) dengan Pelabuhan Panarukan (Situbondo).

Sejarah kelam transportasi KA Madura terjadi pada masa kolonial Jepang. Jalur KA Kalianget - Pamekasan dibongkar tentara Dai Nippon dengan mengerahkan tenaga-tenaga Romusha. Besi rel bekas jalur KA yang dibangun Belanda tersebut dijarah oleh Jepang untuk selanjutnya dijadikan mesin-mesin perang Jepang selama Perang Pasifik (Perang Dunia II). Praktis setelah masa kemerdekaan, tranportasi KA di Madura hanya menyisakan jalur Pamekasan sampai Kamal.

Lokomotif C3117 yang lewat Telang-Bangkalan, Madura,
sekitar tahun 1969.
Jalur Pamekasan-Kamal itu cukup disesaki penumpang meski tidak sepadat di Jawa. Turun dari kapal penyeberangan di Dermaga Kamal, KA siap mengangkut masyarakat ke berbagai tempat di Madura. Sebaliknya, KA yang mengangkut penumpang dari berbagai tempat di Madura akan berhenti di Stasiun Kamal untuk selanjutnya diteruskan dengan kapal menuju Surabaya.

Pada masa itu jalur transportasi KA menjadi favorit atau pilihan utama masyarakat Madura karena angkutan darat seperti bus, mobil pribadi, minibus, apalagi sepeda motor, belum sebanyak sekarang. Namun seiring kemajuan jaman, moda transportasi KA mulai ditinggal oleh masyarakat Madura dengan beralih ke sarana angkutan lain. Jalur KA di Madura pun kemudian resmi ditutup pada tahun 1987.
Thursday, November 12, 2015

Indonesian Lone Survivor


Masih ingat film Lone Survivor yang diilhami operasi Red Wing di Afghanistan? Film ini mengisahkan empat anggota Navy Seal yang sedang mengintai Taliban di Gunung Sawtalo Sar.

Misi gagal karena dipergoki penggembala kambing yang lapor pada Taliban. Akibatnya, pasukan elite Amerika Serikat dikejar 300 orang gerilyawan. Aksi heroik tersebut diingat para personel Navy Seal dengan semboyan Never Forget Operation Red Wing 062805.

Nah kisah serupa juga pernah dialami pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang dulu masih bernama Komando Pasukan Sandi Yudha. Peristiwa itu terjadi 9 Januari 1983 saat satu unit pasukan Nanggala berpatroli di KV34-34/Komplek Liasidi, Timor Timur.

Komplek Liasidi dianggap rawan karena merupakan konsentrasi pasukan Fretilin yang bersenjata lengkap. Mulai dari senapan serbu, mortir sampai pelontar granat.

Benar saja, unit kecil pasukan elite ini kemudian dihadang 300 personel Fretelin di ketinggian. Pertempuran tak seimbang terjadi di pinggir jurang.

Satu per satu prajurit Kopasandha tewas diterjang peluru Fretilin. Komandan Tim Letnan Poniman Dasuki memerintahkan mundur lewat celah bukit. Walau sulit, itu satu-satunya pilihan yang ada.

Di saat genting tersebut, Prajurit Satu Suparlan meminta izin komandannya untuk menghadang musuh seorang diri. Dia mengorbankan diri agar teman-temannya bisa lolos.

Suparlan membuang senapan miliknya dan mengambil senapan mesin rekannya yang sudah gugur. Dia berlari maju dan menembaki Fretilin tanpa memperdulikan peluru musuh yang mengoyak tubuhnya.

Suparlan sudah bersimbah darah. Peluru senapan mesinnya sudah habis. Tapi dia tak mau menyerah.

Dia mencabut pisau komando dari pinggangnya dan memburu musuh. Enam orang berhasil ditewaskan dalam pertarungan maut.

Tak terhitung peluru Fretilin yang menembus tubuhnya. Hingga Suparlan jatuh terduduk nyaris kehabisan darah.

Pasukan Fretilin mendekati Suparlan yang tak mampu bergerak lagi. Mereka bersiap memberikan eksekusi terakhir. Sebuah tembakan maut di kepala prajurit baret merah tersebut.

Setelah puluhan musuh makin mendekat, dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki, Suparlan mencabut pin dua buah granat di kantong celananya.

Dia melompat ke arah kerumunan Fretilin dengan granat sambil berteriak keras. "Allahuakbar!!!"

Sementara itu lima orang pasukan Suparlan yang tersisa telah berada di atas bukit. Mereka menghujani pasukan Fretilin dengan peluru yang tersisa. Untungnya tak lama kemudian, bantuan datang.

Tembak menembak terjadi hingga malam hari. Korban berjatuhan dari dua pihak.

Tujuh prajurit Kopashanda tewas, sementara di kubu Fretilin 83 personel tewas. Jenazah Suparlan ditemukan dalam kondisi tak utuh.

"Keberanian dan bakti Suparlan membuat negara menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa pada Prajurit Satu Suparlan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula yaitu Kopral Dua Anumerta," demikian ditulis dalam Majalah Baret Merah edisi Ulang Tahun tahun 2014.

Pemerintah juga menganugerahkan Bintang Sakti pada Kopda Suparlan melalui Keppres No 20/TK/TH.1987.

Korps Baret Merah mengabadikan namanya menjadi Lapangan Udara Perintis di Batujajar, Jawa Barat.

Rupanya tak cuma pemerintah Indonesia yang menghargai keberanian Suparlan. Komandan Fretilin juga mengirimkan surat pada pasukan Kopasandha. Walau musuh, mereka memuji keberanian dan perlawanan hebat yang diberikan Prajurit Suparlan.

Dalam perang, jarang penghormatan seperti ini terjadi. Kecuali untuk para prajurit yang menunjukkan keberanian luar biasa.

KOMANDO !!!



[ian]
Friday, October 17, 2014

Lambang kota Surabaya

Orang Surabaya mustahil tidak tahu jika lambang kota ini bergambar hiu dan buaya. Namun benarkah dua binatang itu dipungut karena sinonim dengan kata SURA dan BAYA? taukah anda mengaitkan lambang dua hewan dengan nama Surabaya adalah salah kaprah? Mari ikuti dua seri tulisan saya tentang sejarah lambang kota yang sekarang berusia 716 tahun ini.

Kita memang telanjur akrab dengan gambar ikan hiu dan buaya yang bentuknya saling menyerang di dalam perisai segi enam. Dua hewan ini membentuk huruf S dengan latar belakang tugu pahlawan.

Lambang Kota Surabaya

Setiap orang di kota ini memang telanjur yakin jika dua binatang ini adalah asal nama Surabaya. Sura berarti ikan hiu dan baya berarti buaya. Benarkan demikian? ternyata argumentasi itu tidak berdasar. Sejak lama banyak budayawan mengritik namun dianggap angin lalu.

Pemerhati sejarah Surabaya, RM Yunani Prawiranegara, mengatakan kota ini telanjur meyakini lambang Surabaya harus diwujudkan dengan ikan hiu dan buaya yang saling serang. “Padahal antara Surabaya dengan ikan hiu dan buaya tidak terkait sama sekali,” kata anggota Tim Cagar Budaya Pemkot ini.

Tidak jelas darimana asal kata ‘sura’ sehingga lambat laun setiap orang akrab memadankan kata ‘sura’ adalah ‘ikan hiu’. Padahal di kamus Jawa kuno tidak dikenal padanan kata ‘sura’ dengan ikan hiu. Di dalam bahasa bangsa-bangsa yang pernah mewarnai kebudayaan kota ini juga tidak ditemukan makna ‘sura’ yang bisa diartikan dengan ikan hiu. Bahasa Belanda, Portugis, Arab, China, menyebut ikan hiu dengan beragam jenis kata namun tidak ada kata yang 'sama pada pokoknya' dengan kata sura.

Lantas bagaimana asal muasal lambang kota ini sehingga selalu dikaitkan dengan Surabaya? saya mencatat Lambang yang resmi tertempel di kop surat pemkot Surabaya ini ditetapkan oleh DPRS Kota Besar Surabaya dengan Putusan no 34/DPRDS tanggal 19 Juni 1955, ini diamini Presiden Sukarno dalam Keputusan Presiden RI No 193 tahun 1956 pada 14 Desember 1956.

Baru tahun 1950an, dua binatang itu dibuat saling serang dan makna sura ing baya menjadi salah kaprah ikan sura dan buaya

Dua binatang dalam lambang itu jelas bukan ide orisinal. Karena sebelumnya Gemeeente van Soerabaia alias pemkot Surabaya di masa Hindia Belanda juga mengambil dua binatang ini sebagai lambang. Silakan buka sendiri buku buku sejarah.

Bedanya, lambang yang sekarang terkesan lebih heroik karena dua binatang itu saling serang, sementara lambang zaman Gemeeente kedua hewan ini pada posisi tidur sejajar di sebuah perisai warna biru langit. Ikan hiu di sisi atas menoleh ke kiri, dan buaya di bawah menghadap ke kanan. Keduanya berwarna perak.

Di atas perisai terdapat gambar benteng yang mahkota warna emas. Sisi kiri-kanan perisai dipegangi dua singa Neerlandia (Nederlandse Leeuwen) berwarna emas dengan lidah dan kuku berwarna merah menjulur. Di bagian bawah ada pita bertuliskan "Soera-Ing-Baia".

Singa kembar mengapit prisai dengan pita di bagian bawah dan benteng di bagian atas adalah ciri lambang kolonial era 1900-an. Lambang ini berlaku di semua kota di Hindia Belanda, gemenete van Soerabaia atau Pemkot Surabaya yang lahir pada 1 April 1906 juga ingin lambang kota.

Lambang sebuah ikan dan buaya itu sebenarnya usulan LCR Breemen, bos Bank Nutsspaark di Surabaya. Sia berdalih lambang dua hewan itu pantas karena dasar mitos. Namun Breemen hanya mengusulkan karena yang merancang desain grafisnya adalah Genealogisch Heralsch Leeuw atau perhimpunan ahli lambang di Belanda.

Baru pada 1920, lambang dua hewan dalam perisai itu menjadi kop surat dan stempel resmi Gemeeente van Soerabaia.

Namun orisinilkah lambang itu? ternyata tidak.

Logo pertama yang menggambarkan hiu dan buaya. Menjadi panji panji grup musik 

Setelah ditelusuri, logo ini ternyata dicomot dari lambang yang tersohor Surabaya era 1800-an. Ikan hiu dan buaya digambarkan berjajar. Keduanya tidak saling serang, namun tidur dengan posisi kepala yang berbeda.

Dua binatang ini digambar di dalam perisai. Bagian kanan kiri dan belakang terdapat ornamen dedaunan dan pita. Sementara bagian atas perisai terdapat gambar benteng yang modelnya sederhana. Kalau ingin tahu modelnya silakan datang ke bekas pelabuhan kalimas yang lokasinya di depan Pasar Pabean. di sana ada satu-satunya bangunan bermenara yang dulu menjadi menara pantau Sjahbandar. Lambang era 1800an ini menjadi ornamen menara. Juga sekarang bisa dilihat di ornamen mozaik gedung pusat kebudayaan Prancis CCCL di Darmokali.

Inilah lambang yang pertama kali mengangkat gambar dua binatang. Namun lambang itu juga tidak jelas asal usulnya. Ikuti tulisan berikutnya untuk mengetahui alasannya.


Inilah Kisah Muasal Logo Surabaya

Lambang ikan hiu dan buaya yang kini digunakan sebagai logo resmi pemerintah kota Surabaya sebenarnya bukan ide orisinil. Sebab institusi kota baru lahir 1 April 1906. Kini taukah anda jika logo bergambar dua hewan itu awalnya milik sebuah grup musik zaman Belanda? Ikuti ceritanya

Sejumlah literatur sejarah mengungkapkan logo tertua model ikan dan buaya itu ditemukan arkeolog Belanda tahun 1920 dari penning atau prasasti tua yang dibuat untuk memperingati 10 tahun usia Perkumpulan Musik St Caecilia (1848 - 1858).

Logo ini juga diyakini dibuat dari kain bludru yang dibordir di bendera yang menjadi panji panji perkumpulan musik ini. Logo itulah yang dipajang di setiap pementasan di bagian pinggir panggung para pemain musik.

Mungkin karena bentuk logonya unik, Di tahun 1848, sebuah koran dagang Hindia Belanda tertua yang terbit di Surabaya, Soerabaiasche Courant, meletakkan lambang ini di kop koran sebagai logonya.

Namun saat itu tidak jelas apa filosofi di dalam logo ini karena tidak pernah ada catatan.

Belakangan, logo ini menjadi idola. Di mulut cerita rakyat Surabaya muncul cerita mitos pertarungan ikan hiu dan buaya. di jembatan merah yang mengubah pagar jembatan menjadi peranh karena darah kedua binatang. Kemudian bangkainya dimakan Semut sehingga dikenal ada Kampung Semut di pinggir Kalimas.

Namun belum bisa diketahui mana yang lebih dahulu muncul, logo atau cerita rakyat itu. yang pasti di logo lawas itu kedua hewan itu tidak dalm posisi bertarung. Namun tidur damai. Posisi keduanya bertarung baru terlihat di logo terbaru 1950 sampai sekarang.

Faktanya St Caecilia telah menjadi insiprasi. Logo ikan dan buaya itu sudah terlanjur menjadi identitas kota. Selain di kop surat kabar, juga menjadi tren di bangunan bangunan baru hingga awal 1900an. Mulai di ornamen kaca pintu masuk gedung NIAS (Fakultas kedokteran Unair), keramik tembok di rumah tinggal yang sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Darmokali, gedung bekas menara sjahbandar di Kalimas Baru. Bahkan dua tahun lalu, logo dua hewan ini masih terlihat di ornamen di tengah gevel salah satu bangunan lawas di Jl Bubutan. Namun kini bangunan itu sudah hilang dan berganti ruko.


Yang masih relatif bagus adalah logo yang tertempel di depan ruang guru SMA Trimurti Jl Gubernur Suryo. Logo dari baja ini adalah koleksi museum peninggalan sejarahwan GH Von Faber. Museum yang didirikan Faber itu tutup tahun 1950, kemudian gedungnya menjadi SMA Trimurti.

Menurut pengamat sejarah yang juga anggota tim cagar Budaya Surabaya, RM Yunani, logo dua bintang itu sebuah mitos atau cerita binatang atau fable yang sangat lemah dasar kesejarahannya. ‘’Tidak ada kitab atau serat yang yang menulis legenda pertarungan ikan hiu dan buaya. Ini hanya cerita lisan yang tidak jelas asal usulnya,’’ kritiknya.

Sementara itu di buku bertitel Soerabaia, yang terbit Februari 1864, semakin lengkap menjawab teka-teki asal muasal simbol itu. Buku ini ditulis sejarahwan zaman Hindia Belanda J Hageman J Cz, dalam buku yang terbit Februari 1864, Hageman mengatakan sejak muncul logo itu sudah menjadi kontroversi.

Banyak orang yang mengaitkan logo ikan dan buaya itu maksudnya adalah kependekan dari kata Surabaya. Padahal ia menganggap belum pernah ada istilah Jawa yang menyebut suro atau sura adalah nama seekor ikan apalagi ikan hiu. Dalam catatannya yang telah disadur dalam bahasa Inggris itu, Hageman bahkan mencontohkan nama sejumlah kota di Jawa yang ada kata Sura namun tidak ada kaitannya dengan Ikan hiu.

Logo tahun 1920. mulai ada kata Soera Ing Baia. Artinya bukan ikan sura dan buaya, tapi berani melawan bahaya.
Di antaranya Surakarta dan Kartasura. Bahkan sebutan sejumlah pahlawan legenda di Jawa juga mengandung kata SURA, seperti, Suramenggala, Suradilaga, atau Surapati. Kata Hagemen, ‘SURA’ dalam semua penyebutan itu berarti BERANI, tidak ada kata lain selain kalimat itu.

Kalimat "Soera ing Baia" di dalam logo Surabaya 1920 semakin menguatkan jika antara logo dan semboyan itu tidak terkait sama sekali. Karena "Soera Ing Baya" adalah berasal dari bahasa Jawa yang artinya "Berani Melawan Bahaya". Sementara maksud ditampilkannya dua hewan itu tetap menjadi teka-teki sampai sekarang.

Baru tahun 1950an, dua binatang itu dibuat saling serang dan makna sura ing baya menjadi salah kaprah ikan sura dan buaya.

Reference:
http://arkeologi.web.id/articles/mitos-legenda-dan-tutur/2300-logo-surabaya-salah-kaprahhttp://digital-library.surabaya.go.id
Saturday, August 30, 2014

Copyright © yoshikanji blog - All Right Reserved